Terkait Demak (1)

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

5 Juni 2021

Selama tiga jam berada di kompleks Masjid Agung Demak, belum cukup. Mengapa bisa begitu? Namanya kompleks, tentunya bukan hanya ada Masjid saja, tapi museum, perpustakaan, dan pemakaman para raja Kesultanan Demak. Baiklah, saya mencoba mengulasnya sedikit.

——————-

Perjalanan dari Semarang menuju Demak melalui tol dilalui kurang lebih 1 jam lamanya. Perjalanan lancar di dalam tol, tetapi ketika memasuki Demak, agak terhambat sedikit karena ngantri bareng dengan truk pengangkut barang dan bus karena tentunya melewati jalur logistik Pantura. Melewati persimpangan ke Kudus, agak tercekat hatiku: tidak bisa ke sana, karena baru saja lockdown kemarin. Padahal, dari Bandung sudah berencana. Dari Demak akan langsung ke Kudus. Ya, kalau memang rezeki, insya Allah akan Allah sampaikan, pada waktu yang tepat.

Hubungan Demak dengan Letak Geografis

Mengapa kuberi judul “hubungan” …. dengan “letak geografis”? Karena tidaklah sebuah daerah ditempatkan pada posisi tertentu, meliankan memiliki maksud atau makna tertentu.

Napak tilas enam abad lampau, secara geografis, Demak tidaklah berada jauh ekitar 30 km dari bibir Pantura atau Laut Jawa seperti yang sekarang ini, melainkan di dekat Sungai Tuntang yang bersumber dari Rawa Pening di dekat Ambarawa. Sungai Tuntang sendiri bermuara ke Laut Jawa. Dengan begitu, bisalah dikatakan, bahwa Demak dulunya berada di tepi laut atau tepatnya di tepi Selat Silugangga yang memisahkan Pulau Muria dengan Jawa Tengah.[1]

Internet

H. J. De Graaf menyatakan, bahwa Selat Silugangga yang terletak di depan Demak itu cukup lebar, sehingga perahu dari Semarang yang akan menuju Rembang dapat berlayar dengan bebas melalui Demak, tetapi setelah abad ke XVII, Selat Muria tidak dapat dipakai lagi, karena menjadi dangkal saat musim kemarau tiba. Perahu-perahu kecil masih dapat berlayar dari Jepara menyusuri Selat Muria hingga Juwana. [1]

Konsep pusat pemerintahan pada zaman dahulu itu, perairan, pusat perdagangan, tempat pendidikan, tempat peribadatan sekaligus berdekatan atau dalam satu kompleks istana atau keraton, agar memudahkan pengaturan segala sesuatunya selain tentunya memiliki pengaturan secara kosmologis. Tentunya akan terkait juga dengan pertanian sebagai penyedia bahan pokok. Keraton Demak saat ini sudah tidak ada, karena lokasinya dijadikan oleh Belanda sebagai Lembaga Pemasyarakatan, karena ada pendapat yang menyatakan bahwa Belanda sengaja ingin menghilangkan bekas Keraton Demak tersebut. Bukti yang menyatakan bahwa daerah tersebut merupakan keraton, adalah adanya perkampungan yang memiliki nama-nama seperti Siti Inggil, Betengan, Pungkuran, Sampangan dan Jogoloyo, sebagaimana nama-nama yang menjadi bagian dari sebuah keraton. Pendapat lain, keratonnya berada berhadap-hadapan dengan Masjid Agung Demak, menyeberangi sungai yang ditandai dengan adanya dua pohon Pinang.

  1. Hubungan Demak dengan Kerajaan Majapahit

            Demak, sebelum menjadi pusat kerajaan Islam, merupakan kadipaten wilayah Kerajaan Majapahit masa Brawijaya V dan sebelum berstatus Kadipaten Demak, lebih dikenal dengan nama Glagah Wangi yang menjadi wilayah Kadipaten Jepara yang merupakan satu-satunya kadipaten wilayah Majapahit yang adipatinya menganut agama Islam.

            Demak sendiri namanya tidak tunggal “Demak”, melainkan ada tambahan “Bintoro”, yaitu Demak Bintoro. Penamaan “Demak”, memiliki asal usul sendiri. Menurut Purbotjoroko, Demak berasal dari kata “Delemak” yang berarti tanah yang mengandung air, dalam hal ini tanah berawa. Solichin Salam berpendapat, bahwa “Demak” berasal dari bahasa Arab “Dimak” yang berarti air mata, sebagai gambaran kesulitan menegakkan agama Islam ketika itu. R. M. Sutjipto Wiryosuparto sendiri memiliki pendapat, bahwa Demak berarti pegangan atau pemberian dalam bahasa Kawi-nya. Pendapat M. Sutjipto Wiryosuparto didukung oleh Slamet Mulyono, yang menerjemahkan kutipan “Wineh Demak Kapwo Yotho Karamanyo” dari Kitab Kekawin Ramayana, yang berarti anegerah dari Prabu Brawijaya V kepada Raden Patah. Tetapi tampaknya, ketiga arti tersebut dapat dipergunakan, karena memang kondisi Demak mencerminkan ketiganya. [2]

Sedangkan “Bintoro”, menurut Soetjipto Wirjosoeprapto, berasal dari kata “Bethoro” yang berarti bukit suci bagi penganut Hindu, sebagaimana bukit suci India adalah Pegunungan Himalaya yang menyimbolkan Gunung Meru. Pendapat lain dari Mbak Syamsuri, “Bintoro” diambil dari nama Pohon Bintoro yang ketika itu memang banyak tumbuh di Hutan Gelagah Wangi. Daun dan bunga serta wanginya yang mirip Pohon Kamboja, dianggap mirip sebagai bunga kesayangan para Dewa Hindu. Kedua alasan tersebut bisa digunakan, mengingat memang pengambilan nama tersebut dalam rangka strategi dakwah yang memudahkan Islam masuk ke dalam populasi masyarakat yang masih banyak beragama Hindu-Buddha.

            Raja pertama Demak, tentunya tidak asing lagi bagi kita semua. Beliau adalah anak laki-laki dari Prabu Brawijaya V yang juga dikenal sebagai Bhre Kerthabumi, raja terakhir Kerajaan Majapahit (1413 – 1478 M),. Bagaimana asal usulnya, kenapa raja beragama Hindu Syiwa tersebut memiliki anak yang malahan sebagai raja dari kerajaan Islam pertama di Jawa, apatah lagi sebagai pusat dakwah Islam?

Pada tahun 1468 M, Prabu Brawijaya  beristrikan seorang putri Champa  bernama Ratu Dwarawati, anak dari seorang Raja Kuntoro atau Raja Jaya Simhawarman (1390 – 1401), seorang raja dari tanah Samarkand.[3] Kakak perempuan dari Ratu Dwarawati, Dewi Candrawulan  tetap tinggal di Champa, menikah dengan Maulana Ibrahim al-Ghazi (1395) atau Ibrahim Asmarakandi atau Maqdum Ibrahim as-Samarqand – yang nantinya melahirkan Sunan Ampel —  salah satu anak dari Syekh Jumadil Kubro, seorang tokoh kunci proses Islamisasi Jawa pada abad ke-14 – 15 M. Satunya lagi bernama Maulana Ishak (Syekh Datuk Sidiq).

Ada pendapat yang menyatakan bahwa Prabu Brawijaya V diislamkan oleh Maqdum Ibrahim as-Samarkand, karena tidak mungkin seorang ulama bernama Syekh Bentong, yang merupakan anak dari Syeh Quro, penyebar agama Islam di Karawang berkebangsaan Indo-Cina (antara Champa-Thailand), mau menikahkan anaknya bernama Siu Ban Ci dengan Raja Brawijaya V yang beragama Hindu. Secara syariat Islam, tidak dibenarkan seorang muslimah menikah dengan yang bukan seagama. Raden Patah, yang diberi nama Jin Bun ini lah merupakan anak dari Siu Ban Ci dengan Prabu Brawijaya V.

Raden Patah sendiri lahir di Palembang. Kecemburuan Ratu Dwarawati mengakibatkan Raja Brawijaya V menyerahkan Siu Ban Ci yang sedang hamil muda kepada putra sulungnya, Arya Dilah atau Arya Damar yang saat itu menjadi adipati Palembang. Setelah Siu Ban Ci melahirkan Raden Patah, baru dinikahinya.[1] Anak mereka berdua bernama Raden Kusen.[2]

Pernikahan Ibrahim Asmarakandi dengan Dewi Candrawulan melahirkan anak bernama Ali Murtala dan Ali Rahmatullah (1420 M). Keduanya menyebarkan agama Islam di Champa. Pada usia 20 tahun, orang tuanya meminta Ali Rahmatullah untuk berdakwah di Majapahit sekaligus mengunjungi Prabu Brawijaya V di Majapahit yang tentunya sebagai pamannya.  Perjalanan Ali Rahmatullah ditemani oleh ayahnya dan Ali Murtala. Ali Murtala meneruskan perjalanan dakwah ke Madura hingga ke Bima, sementara Ali Rahmatullah ke  Majapahit. Ali Rahmatullah dan Maqdum Ibrahim sempat singgah ke Sriwijaya selama dua bulan, yang waktu itu Arya Damar sudah menjadi adipati. Ali Rahmatullah dan Maqdum Ibrahim memperkenalkan Islam kepada Arya Damar, dan mengganti nama menjadi Ario Abdillah. Untuk menjaga resiko rakyat yang masih menganut kepercayaan lama, ia menyembunyikan keislamannya.[3]  Sebelum tiba di Majapahit, Maqdum Ibrahim sakit dan meninggal di Tuban.[4]

Di Majapahit, akhlak Ali Rahmatullah menarik hati Raden Brawijaya V, sehingga Ali Rahmatullah dinikahkan dengan putrinya, Dewi Candrawati. Ia pun bergelar Raden Rahmat. Selain itu, sebidang tanah dan bangunan yang terletak di Ampeldelta, Raja Brawijaya V berikan kepada Raden Rahmat, yang oleh Raden Rahmat diberdayakan sebagai masjid dan pesantren, sebagai sarana ibadah dan pendidikan bagi adipati, pejabat dan anak-anaknya serta terbuka juga bagi masyarakat umum. Di sini, Raden Rahmat bergelarkan Sunan Ampel. Sunan Ampel berterus terang kepada Raden Brawijaya V yang senang dengan keadaan Majapahit yang kembali aman dan tentram, bahwa yang diajarkannya adalah ajaran-ajaran Islam.[5]

Sementara di Palembang, Prabu Brawijaya V meminta Raden Patah untuk menggantikan Arya Damar untuk menjadi bupati Palembang, tetapi Raden Patah menolak. Keinginannya untuk mempelajari agama Islam dengan lebih mendalam, bersama Raden Kusen, maka ia ingin berguru kepada Sunan Ampel di Jawa yang pernah menjadi guru dari Arya Damar. Beberapa hari di Ampeldenta, mereka pun menghadap Raja Brawijaya V.

Raden Brawijaya V memberikan jabatan sebagai bupati di Kadipaten Glagah Wangi kepada Raden Patah setelah Raden Patah mengemukakan niatnya untuk mengabdi kepada Raja Brawijaya V. Hubungan antara Raden Patah dan Sunan Ampel pun semakin menguat. Berdua mereka lalu membangun Mesjid Agung Demak di Kauman pada tahun 1477 hingga pada tahun 1500 menjadi masjid utama Kerajaan Demak. Mesjid ini pun, menjadi cikal bakal tempat berkumpulnya para wali songo.  

Sedikit menyoroti Kauman, singkatan dari Pekauman atau Pakauman, karena saya tertarik dengan istilah ini. Sebelumnya mengira bahwa Kauman ini merupakan nama daerah tertentu spesifik pada sebuah kota di Jawa, tahunya selama ini di Yogyakarta, tetapi ternyata bermakna universal di Jawa. Selain di Yogyakarta, daerah Kauman juga ada di Semarang, Demak, Kudus. Masjid Kauman Semarang, tadinya bernama Masjid Aci, terletak di daerah yang juga bernama Kauman, satu kompleks dengan Pasar Johar yang gak jauh dengan Pecinan, tempat tinggal sekaligus dagang orang Cina. Masjid Aci didirikan bersamaan dengan Perjanjian Giyanti pada abad ke-18. Masjid Agung al-Aqsho Menara Kudus, pun terletak di daerah yang diberi nama Kauman. Kauman sendiri, selalu terletak di sebelah barat alun-alun, yang biasanya banyak dihuni oleh mayoritas masyarakat beragama Islam, karena itu Kauman diduga berasal dari dua kata: kaum beriman.

Juga sedikit menyoroti kedatangan Syekh Quro dan Syekh Bentong dengan kehadiran Cheng Ho di Jawa. Pada tahun 1419, Cheng Ho menunjuk Haji Bong Tak Keng sebagai Kepala di Markas Besar Champa untuk mengatur Komunitas Komunitas China Muslim Mazhab Hanafi di Asia Tenggara (Nan Yang), termasuk di Indonesia. Cheng Ho sendiri juga melakukan ekspedisi ke Indonesia: Kerajaan Majapahit, Aceh, Palembang, Cirebon, Semarang, Lasem, Rembang, Tuban, Gresik, Surabaya, Kutai, dan Makasar.

Pada tahun 1416, dalam ekspedisi Cheng Ho, terdapat Syekh Quro dan Syekh Bentong. Keduanya turun di Karawang, dan kemudian Syekh Bentong tinggal di Gresik untuk seterusnya.

Menarik menghubungkan antara pengaturan ekspedisi dakwah melalui jalur Champa dan jelang masa keruntuhan Majapahit dengan kedatangan Cheng Ho untuk mendukung penyebaran Islam di Jawa. Dan sebenarnya, pendirian Kerajaan Majapahit itu sendiri sebagai cikal bakal dari peneguhan Islam di tanah Jawa, yang sebenarnya sudah mulai dicicil kedatangannya sejak zaman Muawiyah, yang pada masa itu berdiri Kerajaan Holing atau Kalingga yang juga terletak di jalur Pantura, antara Kabupaten Pekalongan dan Jepara. Nantinya, kedua kabupaten ini masuk dalam wilayah kekuasaan Majapahit.

Kerajaan Holing atau Kalingga yang beragama Budha, meskipun mayoritas masyarakatnya bergama Hindu. Kerajaan menjadi makmur sejahtera di bawah kepemimpinan Ratu Sima yang tegas, adil, dan jujur sehingga sangat dicintai rakyat kecil hingga para pembesar. Pada waktu itu, orang Arab dikenal dengan Ta Cheh. Pada tahun 674-675 M, Yazid bin Mu’awiyah, mendatangi Kerajaan Holing.[6] Sepertinya merupakan hal biasa pada masa itu ketika kerajaan didatangi oleh utusan beragama yang berbeda. Rasulullaah Muhammad saw. pun kerap mengirimkan utusan untuk berdakwah ke Cina, yang lalu nanti setelah mendapatkan murid-murid di Cina, maka murid-murid tersebut mendatangi India, dan lain sebagainya. Barangkali juga tidak terkecuali di Indonesia.

Champa sendiri, begitu banyak memiliki keterkaitan dengan Indonesia. Menurut penelitian Erlangga Ibrahim dan Syahrizal Budi Putranto ketika mendatangi Candi My Son di Champa, mendapatkan data bahwa orang Champa sebenarnya berasal dari Jawa. Disebut-sebut oleh sejarawan di Riau ketika menceritakan tentang pendirian Candi Muaratakus di Kampar, kemungkinan didirikan oleh Kerajaan di Champa. Istilah “Jeumpa” di Aceh pun disebut-sebut berasal dari Champa. Dan sebelumnya sudah dijelaskan, bagaimana Champa memasuki Kerajaan Majapahit.

Majapahit berdiri pada tahun 1294 M. Pendirian kerajaan-kerajaan tersebut melibatkan maraknya pembangunan candi-candi dan patung besar yang membutuhkan tenaga, waktu, dan dana yang tidak sedikit, terutama rakyat berkasta sudra banyak menderita karena harus kerja bakti. Selain itu, tanah pun diambil tanpa ganti rugi.[7] Prasasti-prasasti yang menyertai pembangunan candi menunjukkan, adanya aktivitas keagamaan yang mendadak berkembang dan disertai dengan pembangunan candi di Jawa yang erat behubungan dengan perkembangan politik.[8] Melihat Islam yang menawarkan kedamaian, mau bersembahyang tanpa harus ada perantara patung, dan tiadanya kasta, menjadi minat tersendiri bagi rakyat untuk berpindah kepada agama Islam. Karenanya, tidak benar jika dikatakan bahwa Majapahit runtuh pada abad ke-15 dikarenakan serangan oleh kesultanan Demak. Kemunduran demi kemunduran yang disebabkan oleh banyak faktor itu berlangsung secara perlahan. Selain sebab banyaknya pembangunan candi, juga berasal dari hubungan antara Hayam Wuruk dan Gajah Mada yang retak akibat perang Bubat (1357 M, melawan Kerajaan Sunda),[9] wafatnya Gajah Mada pada tahun 1364 M dan menyusul Hayam Wuruk pada tahun 1389 M. Tidak ada seorangpun yang mampu menggantikan kepemimpinan mereka berdua. Mencapai puncak kemunduran pada Perang Paregreg yang terjadi pada tahun 1404 – 1406 M, yang merupakan perang antara Majapahit Barat yang dipimpin oleh Wikramawardhana melawan Majapahit Timur yang dipimpin oleh Bhre Wirabhumi. Setelahnya, kerajaan-kerajaan kecil banyak yang melepaskan diri dari pengaruh Majapahit. Selanjutnya, dapat kita analisa, bahwa semakin lama Kerajaan Majapahit pun semakin kehilangan kekuatannya. Anak keturunan Kerajaan Majapahit yang beragama Islam pun mulai melanjutkan Kerajaan Majapahit dalam bentuk lain. Tidak hanya Raden Patah dan Sunan Kusen, tetapi juga Sunan Kalijaga.

Tentang Sunan Kalijaga, Terdapat dua pendapat tentang nasab Sunan Kalijaga. Selama ini semua sumber menyatakan bahwa Sunan Kalijaga adalah anak dari bupati Tuban, Wilatikta, yang merupakan keturunan dari Ranggalawe, yang dulu pernah konflik dengan Raden Wijaya, Raja pertama Majapahit.  Analisa penulis, bahwa Sunan Kalijaga adalah anak dari Brawijaya V. Sudah mahfum pada masa itu, jika raja memberikan istri-istrinya kepada para bawahan. Ibu Sunan Kalijaga diberikan kepada Wilatikta, sehingga seolah-olah  Sunan Kalijaga adalah anak dari Wilatikta. Sunan Kalijaga menikah dengan  Dewi Sarah, putri dari Maulana Ishaq, yang melahirkan Raden Umar Said yang kelak bergelar Sunan Muria. Sunan Kalijaga juga menikah dengan putri dari Sunan Ampel.

Koleksi Pribadi: Tampak depan Masjid Agung Demak.
Koleksi Pribadi: Tampak samping (selasar) Masjid Agung Demak yang berhadapan dengan bangunan Museum dan Pemakaman para raja Demak.
Koleksi Museum Demak: Masjid Agung Demak tahun….

Sebelum Demak menjadi pusat kerajaan Islam, merupakan kadipaten wilayah Kerajaan Majapahit masa Brawijaya V dan sebelum berstatus Kadipaten Demak, lebih dikenal dengan nama Glagah Wangi yang menjadi wilayah Kadipaten Jepara yang merupakan satu-satunya kadipaten wilayah Majapahit yang adipatinya menganut agama Islam.

Letak Demak memang tepat berada di tengah-tengah Pantai Utara Pulau Jawa dan berdekatan dengan muara Sungai Tuntang dan muara Sungai Lusi, sehingga sangat strategis untuk urusan perdagangan yang melibatkan banyak interaksi dengan pelbagai negara seperti Arab, Pakistan, India, dan Cina. Lalu, para wali: Mawlana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Gunung Djati, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, dan Sunan Muria mulai memusatkan aktivitasnya di Demak. Paling pertama dipikirkan adalah mempersiapkan pendirian tempat ibadah, karena semakin pesatnya perkembangan agama Islam di sana: Masjid.

Masjid yang akan didirikan, tidak langsung diberi nama Masjid, karena saat itu masyarakatnya masih cukup banyak yang menganut agama Hindu, Buddha, dan pelbagai aliran kepercayaan. Khawatir masyarakat malah menjauh, karena itu nama Masjid diganti terlebih dahulu dengan nama Panepen: Panepen Glagah Wangi. Fungsinya selain untuk tempat peribadatan umat Islam, juga bisa digunakan bagi umat beragama dan kepercayaan lainnya. Penepen sendiri dalam bahasa Jawa memiliki arti menepi; tempat yang dipergunakan untuk menyepi atau berdiam.

Komponen Bangunan Masjid

Hasil syuro para wali, pembangunan Panepen harus selesai dalam waktu satu hari. Bersesuaian dengan petunjuk dari Nyai Lembah dan Baru Klinthing, bahwa baiknya Panepen didirikan di tempat tumbuhnya serumpun Glagah Wangi – yang sekarang menjadi tempat mihrab. Lahan bangunan berukuran: dalam 31×31 m, serambi 31×15 m, dan tinggi Soko Guru 16 m berdiameter 1, 14 m. Bagian tengah ruangan ditopang oleh empat tiang raksasa tersebut. Pembangunan Panepen dilakukan dengan pembagian tugas yang rapi. Ada empat komponen yang dibutuhkan, yaitu tiang penyangga, pintu bledheg, atap berbentuk limas, simbol gambar berupa bulus di dekat mihrab, dan dampar kencana Majapahit.

Internet

Tiang penyangga utama atau istilah dalam bahasa Jawa disebut dengan Soko Guru, dibuat dan didirikan oleh Sunan Gunung Djati, Sunan Ampel, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga.  Rencana penyelesaian pembangunan Masjid dalam waktu satu hari tampaknya mengalami kesulitan: tinggal satu soko guru lagi, yaitu yang harus dikerjakan oleh Sunan Kalijaga, sementara sosoknya tidak kelihatan pada malam hari jelang hari berikutnya.  Raden Patah yang melihat tiga Soko Guru yang tergeletak begitu saja, lalu meminta Sunan Kudus untuk mencari Sunan Kalijaga sampai ketemu pada malam itu juga.

            Sunan Kalijaga ditemukan saat melakukan shalat malam di  pinggir Sungai Lanang, terlebih ketika melihat api yang masih menyala untuk memasak nasi. Sunan Kudus lalu mengingatkan Sunan Kalijaga untuk bersegera melaksanakan tugasnya.

  1. Tiang Penyanggah Utama: Soko Guru

Tiang penyangga utama atau istilah dalam bahasa Jawa disebut dengan Soko Guru, dibuat dan didirikan oleh Sunan Gunung Djati, Sunan Ampel, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga.  Rencana penyelesaian pembangunan Masjid dalam waktu satu hari tampaknya mengalami kesulitan: tinggal satu soko guru lagi, yaitu yang harus dikerjakan oleh Sunan Kalijaga, sementara sosoknya tidak kelihatan pada malam hari jelang hari berikutnya.  Raden Patah yang melihat tiga Soko Guru yang tergeletak begitu saja, lalu meminta Sunan Kudus untuk mencari Sunan Kalijaga sampai ketemu pada malam itu juga.

            Sunan Kalijaga ditemukan saat melakukan shalat malam di  pinggir Sungai Lanang, terlebih ketika melihat api yang masih menyala untuk memasak nasi. Sunan Kudus lalu mengingatkan Sunan Kalijaga untuk bersegera melaksanakan tugasnya.

Koleksi Pribadi

Sunan Kalijaga mempersembahkan Soko Guru yang berbeda daripada yang lain: tersusun sedemikian rupa dari potongan-potongan kayu tak terpakai hingga dapat bergabung dengan tiga Soko Guru lainnya. Perekat yang digunakan dari getah Pohon Trembalo yang disebut dengan Blendok Trembalo dan diikat dengan rumput lawatan. Seekor ular Tampar menyelinap di antara rekatan tersebut, tetapi tidak dapat dibuka kembali.

            Empat Soko Guru memiliki makna: Ashsholaatu ‘imaaduddiin. Faman aqhoomahaa faqodh aqhoomaddiin. Wa man tarokahaa faqhodh hadamaddiin= “Sholat adalah tiang agama. Barangsiapa mendirikannya maka sungguh ia telah menegakkan agama (Islam) itu dan barangsiapa meninggalkannya maka sungguh ia telah merobohkan agama (Islam) itu.”

Panepen pun selesai sesuai rencana, lalu semuanya shalat Subuh berjama’ah yang diimami oleh Sunan Kalijaga. Begitu selesai salaam, sebuah bungkusan berisikan pakaian terbuat dari kulit domba dan selembar surat keterangan yang memberitahukan bahwa pakaian itu merupakan warisan dari Rasulullaah saw., jatuh dari atas mihrab. Satu-satunya yang cocok menggunakan pakaian berupa rompi yang diberi nama Kotang Ontokusumo (Kyai Gondhil) itu hanyalah Sunan Kalijaga.

Internet

2. Lawang Bledheg

Tahun berdirinya Panepen diberi tanda dengan sengkalan Lombo “Nogo Mulat Saliro Wani” yang artinya nogo: naga, mulat: bergerak, saliro: sendiri, wani: berani. Diterjemahkan ke dalam bilangan, berarti 1388 Saka atau 1466 M. Pada zaman Sultan Trenggono, raja Demak kedua, sengkalan Lombo tersebut diwujudkan dalam bentuk sengkalan memet yang dilukiskan oleh Ki Ageng Selo berupa relief Naga Kembar yang dipasang sebagai pintu penghubung antara ruang masjid dan serambi.

Pintu itu dikenal dengan sebutan Lawang Bledheg. Lawang Bledheg memiliki tiga makna:

a. Ilaa Tabarrug

Ilaa Tabarrug memiliki arti: sampai kepada Cahaya yang dimaksudkan pada Qs. An-Nuur [24]:35.

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [٢٤:٣٥]

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

b. Nogo Bledheg

Lawang Bledheg juga disebut Nogo Bledheg, yang dalam istilah Arabnya disebut sebanag Naja Ilaa Baladika yang artinya menuju keselamatan negeri-mu. Maksud dari “negeri-mu” adalah negeri akhirat.

c. Illa Tabaaruka

Illa Tabarruka memiliki arti sampai kepada kebaikan, bahwa Masjid merupakan tempat suci yang merupakan sumber segala kebaikan baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Pada sengkalan Lombo “Kori Trus Gunaning Janmi” yang artinya Kori= pintu, trus: menembus, gunaning= bermanfaat, janmi= manusia. Terjemahan bilangannya, berarti 1399 Saka atau 1477 M, Penepen dipugar kembali. Sunan Kalijaga menegakkan mustaka yang miring, mengangkat tiang-tiang yang amblas dan merapikan halaman sesuai dengan keadaan lingkungannya.

Koleksi Pribadi: Mustaka Masjid Agung Demak.
Koleksi Pribadi.

Insya Allah bersambung.


[1] W. L. Olthof (pent.),  Babad Tanah Jawi, Jakarta: Buku Kita, 2008, h. 25; Krisna Bayu Adji, Sejarah Para Raja dan Istri-istri Raja Jawa, dari Mataram Kuno hingga Mataram Islam, Yogyakarta: Araska, 2016, hal. 173. Informasi diperoleh dalam Kronik Cina dari kuil Sam Po Kong. Menurut Purwaka Caruban Nagara, Siu Ban Ci adalah nama selir dari Brawijaya V; Agus Sunyoto, Atlas Walisongo, Edisi Revisi, Bandung: Mizan Media Utama, 2016, hal. 179; Yudhi AW., Babad Walisono,  Yogyakarta: Narasi, 2013, hal. 36.

[2] Erlangga Ibrahim, Syahrial Budi Putranto, Champa, Kerajaan Kuno di Vietnam, Batara Media, 2016, hal. 155 – 159. Lihat juga Ibnu Bathuthah, Kitab Kanzul Ulum; Tempo, 19 Juli 2015.

[3] Thomas W. Arnold, The Preaching of Islam, London: Constable and Company, 1913, p. 381; Agus Sunyoto, Atlas Walisongo, Edisi Revisi, Bandung: Mizan Media Utama, 2016, hal. 179; Yudhi AW., Babad Walisono,  Yogyakarta: Narasi, 2013, hal. 55.

[4] Yudhi AW., Babad Walisono,  Yogyakarta: Narasi, 2013, hal. 64.

[5] Erlangga Ibrahim, Syahrial Budi Putranto, Champa, Kerajaan Kuno di Vietnam, Batara Media, 2016, hal. 159 – 161; Agus Sunyoto, Atlas Walisongo, Edisi Revisi, Bandung: Mizan Media Utama, 2016, hal. 179.

[6] Hamka, Dari Perbendaharaan Lama, Jakarta: Percetakan Mampang, 1986, hal. 1 – 2.

[7] Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah 1, Bandung: Salamadani, 2009.

[8] Ras, J. J., pen. Ikram, Achadiati, Masyarakat dan Kesusastraan Jawa, Jakarta: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Yayasan Naskah Nusantara (Yanassa) dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2014, hal. 42.

[9] Serat Pararaton, Kidung Sunda, Kidung Sundayana dari Bali.


[1] Sugeng Haryadi, Masjid Agung Demak dan Gerebeg Besar, Jakarta Barat: CV. Mega Berlian, 2003, h. 6.

[2] Sugeng Haryadi, Masjid Agung Demak dan Gerebeg Besar, Jakarta Barat: CV. Mega Berlian, 2003, h. 7 – 8.

[3] Yudhi AW., Babad Walisono, Yogyakarta: Narasi, 2013, hal. 42 – 43.


[1] Sugeng Haryadi, Masjid Agung Demak dan Gerebeg Besar, Jakarta Barat: CV. Mega Berlian, 2003, h. 5 – 6.

Tinggalkan komentar