Asal Usul Istilah Makhdum,Kang Sinembah, Pangeran, dan Sunan/ Susuhunan

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Catatan Ngaji Naskah Jawa Hanacara pada 27 September 2021 dengan pak Ahmad Baso.

Pasangan Ca dalam Naskah Wangsakerta, Koleksi Museum Sribaduga-Bandung.

Istilah Sunan, susuhunan.

Kalau dalam naskah Gresik Hanacaraka, istilah Sunan, ada yang bilang berarti raja. Sedangkan dalam naskah Pegon tertua, dengan istilah “Kang Sinembah”.

Kata “Kang Sinembah”, dulu dipakai di Melayu yang berasal dari kata “Makhdum”. Orang Melayu mengadaptasinya dari bahasa Persia yang dipakai para Sufi di India, karena waktu itu bahasa resmi orang India, selain Arab adalah Persia. Para Wali membawa istilah Makhdum ke Melayu, ke Pasai, lalu dibawa ke Jawa dengan istilah “Kang Sinembah”.

Makhdum memiliki arti yang dihormati, al-Mukarram, bukan yang dilayani atau disembah. Makhdum dipakai untuk para guru agama yang di India Pesisir, kemudian dilekatkan kepada para guru yang mempunyai kemampuan spiritual, seperti para guru Sufi. Selain kata Makhdum, juga ada kata lain, dari India, seperti Khowaja. Di Jawa berubah menjadi Koja. Istilah Khowaja sendiri berasal dari Turki. Turki juga berpengaruh di India, juga dipakai untuk kaum Sufi. Koja tidak populer di Indoensia, tidak secara spesifik untuk menyebut para auliya/ sufi.

Di dalam naskah Gresik, ada istilah kata Kang Sinembah, Makhdum, dan Koja, untuk menyebutkan Sunan Ampel. Sebelumnya, Sunan Ampel tidak disebutkan sebagai Makhdum atau Kang Sinembah. Dalam naskah Pegon tertua https://dwiafrianti.home.blog/2021/10/25/babad-cerbon/, Sunan Ampel disebut sebagai Pangeran Ampel Denta, bukan Sunan atau Susuhunan.  Jadi ini merupakan bukti, bahwa istilah Pangeran merupakan sebutan yang dipakai oleh para Wali ketika mereka masih hidup. Penulisan naskah yang berasal dari Mawlana Hasanuddin Banten, mendeskripsikan kedatangan “Pangeran” Bonang dan Sunan Kalijaga yang datang ke Cirebon untuk berguru kepada Sunan Gunung Djati yang kala itu disebut sebagai Pangeran Cirebon. Belum disebut kata Sunan kala itu. Jadi naskah ini referensi untuk abad ke-16. Belakangan, kemungkinan, setelah para Wali wafat, baru dilekatkan istilah susuhunan/ sunan.

Naskah Sunan Bonang tertua di Leiden https://dwiafrianti.home.blog/2021/11/01/naskah-sunan-bonang/, muridnya juga menulis “yang menulis ini adalah Pangeran ing Benang”, jadi bukan Susuhunan. Masa itu adalah masa2 pemberian nama bagi para auliya dengan sebutan Pangeran. Baru jemungkinan belakangan muncul istilah Makhdum seperti yang ada di dalam Babad Gresik. Dari babad Gresik kemudian masuk ke pedalaman, kemudian menjadi bahasa sapaan bagi para wali songo. Asal usulnya disbeut dalam naskah Gresik, kang sinembah diambil dari Makhdum. Karena itu, dalam sejarahnya, Sunan Ampel ditulis dalam sejarahnya dipanggil Makhdum. Setelah itu lama lama menggunakan istilah Pangeran. Tapi puteranya, Sunan Bonang, masih tetap lekat dipanggil dengan Makhdum Ibrahim.  Jadi, ketuaan suatu naskah dapat dilihat dari bagaiamana istilah yang dilekatkan kepada para wali.

Naskah Merapi Merbabu, naskah Buda, yang ditulis oleh para imigran dari Majapahit, malah masih menggunakan istilah Pangeran. Dan tidak ada kata Sunan. Para imigran dari Majapahit tersebut menghormati para Wali dengan sebutan Pangeran.

Raden Patah tidak menggunakan istilah pangeran, begitupun Sunan Ampel. Sunan Ampel namanya Raden Rahmat. Nanti setelah dapat tanah di Perdikan di Ampel oleh Raja Brawijaya dan mendirikan pesantren, baru kepadanya dilekatkan oleh masyarakat istilah Pangeran. Beliau keturunan raja di Champa. Begitupun Sunan Bonang, ketika mendapatkan tanah di Bonang, baru dilekatkan istilah pengeran kepadanya. Begitupun Sunan Gunung Djati ketika mendapatkan tanah di Cirebon.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s