Bismillaahirrahmaanirrahiim.
T (1) 9 Romadhon 1442, 14.45.
Rabu, 21 April 2021.
Salah satu dari sekian hal atau subjek (bukan objek) yang menarik perhatianku di Banten, karena saking banyaknya: masjid beratap tiga undakan. Kalau Masjid Agung Banten yang dibangun pada masa Mawlana Hasanuddin, ya sudah biasa saja, sebagaimana masjid-masjid masa penyebaran Islam awal di Indonesia. Tapi, masjid di Banten, adalah masjid yang dibangun di masa kini.
Bagaimana sejarahnya?
Aku mencoba untuk menghubungkannya dengan bangunan suci sunda kuno.
Salah satu pantun Bogor masa Kerajaan Sunda Pajajaran:
“pamujaan di leuweung songgong
Di mumunjal kiharahyang
Pamujan batu anu tujuh
Anu ngundak tilu tumpangan…”
(Sutaarga, 1965: 50)
“Tempat pemujaan di Huran Songgong,
Di bukit kecil kihara hyang
Memuja batu yang tujuh
Yang bertingkat tiga tumpang teras.”
“Batu yang tujuh” dan “tiga tumpang teras”, maksudnya apa? Aku mencoba untuk mengkaitkannya dengan jargon terkenal di Sunda: bukan orang Sunda namanya kalau tidak Islam, dan bukan Islam namanya kalau bukan orang Sunda. Walah, apa pula maksudnya ini?
Berbeda dengan di Jawa yang ditemukan banyak candi dengan arca-arca dewata Hindu-Buddha, di Sunda tidak sedemikian, padahal pendiri Kerajaan Salakanagara (136 M) di Pandeglang-Banten, datang dari India, yang otomatis selalu dikaitkan dengan agama Hindu.
Naskah Carita Parahyangan (1580 M) menuliskan tentang bentuk religi (ageman) Sunda Kuno, yaitu: Jati Sunda (nu ngawakan Jati Sunda) dan memiliki tempat suci yang dinamakan kabuyutan parahyangan. Di dalam naskah tersebut dikisahkan pula, bahwa Prabu Jayadewata (Sri Baduga Maharaja, w. 1521) dari Kerajaan Sunda Pajajaran membuat sebuah kitab sebagai pedoman hidup bernama Sanghyang Siksa Kandang Karesian (SSKK) pada tahun 1518 atau 1550 Saka.
Menariknya lagi, masyarakat Sunda Kuno ketika memuja dengan menyebut Dia Yang Tertinggi, tidak dengan para nama dewata Trimurti agama Hindu atau para Tathagata Buddha, melainkan Sang Hyang dengan nama-nama yang diturunkan menjadi tujuh Guriang.
Menurut kosmologi Sunda Kuno, di bawah Sang Hyang, terdapat tujuh Guriang — yang juga bukan istilah dari Hindu. Guriang paling atas disebut Alam Padang, yang di atasnya bersemayam Hyang Tunggal dengan empat namanya: Sang Hyang Kala, Sang Hyang Wenang, Sang Hyang Tunggal, dan Sang Hyang Wening. Tiga lainnya: Lokesvara, Sakyamuni, dam Wajrapani.
Lalu, di bawah tujuh Guriang tersebut terdapat sembilan dewa: Yama, Candra, Aditya, Brahma, Iswara, Mahadewa, Kowera, dan Ciwa.
Dalam naskah Jatiniskala yang berbahasa sekaligus beraksara Sunda Kuno, dijelaskan, bahwa terdapat tiga alam: Sakala (manusia), Niskala (tempat tinggal para dewa), dan Jatiniskala (tempat tinggal Ijunajati Nistemen). Manusia yang mencapai Alam Niskala dan Jatiniskala, akan berucap: “Aing ingya Eta ingnya Aing” yang memiliki makna manunggaling kawula lan gusti dalam khazanah Jawa, yaitu: Aku adalah Engkau, dan Engkau adalah Aku.
Di dalam khazanah Ibnu Arabi, kalau lah bisa saya analogikan, sakala itu adalah alam yang tampak oleh mata lahiriyah, tubuh fisik tinggal: alam mulkiyah. Sakala-niskala adalah tempat jiwa dan malaikat tinggal: alam malakutiyah. Niskala adalah tempat ruh al-Quds tinggal: alam jabarutiyah.
Jadi bertanya-tanya: bahwa tiga undakan pada atap mesjid, menyimbolkan tiga alam tersebut: bahwa manusia hendaknya mencapai ketiga alam tersebut, sebagaimana Qs. Al-A’roof [7] : 172 nyatakan:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ [٧:١٧٢]
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,
Bahwa tujuan untuk mencapai ketiga alam tersebut adalah agar manusia mengingat kembali persaksian jiwa dan ruh-nya tentang Allah: Allah yang dikenal. Karena yang menyaksikan Allah adalah jiwa dan ruh, maka manusia perlu mengenal kedua sosok tersebut. Pada persaksian tersebut, Allah juga menyatakan tugas sang manusia tersebut ketika berada di muka bumi, yang menjadi Tujuan dari penciptaannya. Ketika sang manusia mengetahui tugas yang telah ditentukan oleh Allah, maka ia disebut juga sebagai ahli di bidangnya. Seorang ahli sejati, yang memang berasal dari penilaian Allah.
Penggalan teks dalan naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian (SSKK), turut menyatakan:
“Ja rang dek ceta, ulah salah guesan nanya, lamun hanya nyahodi tanian heran, talaga banyu atis ma hangsa tanya. Kalingana ma aya janma atisti ring apraniti. Herang tineung. Rame ambek, nyangkah, kangken hangga dina talaga herang. Haying nyahod jero ning laut ma, maysya tanya. Kalingana ma upama hayangg nyaho di hedap sang dewa ratu deung di hedap mahapandita. Haying nyaho di Iwir ning leuweug ma gajah tanya. Ini kalingana. Kangken Iwir ta ma nyaho di tineung nu reya. Kangken gajah ta ma nyaho di bebedas sang dewa ratu. Haying nyaho di ruum amis ning kembang ma, bangbara tanya. Kalingana ta kangken bangbara ma janma bisa sab numbara, nyaho di tingkah skalih. Kangken ruum kembang ma janma rampes twahna, amis barungusan semu imut tingkah suka. Kalingana ulah salah geusan tanya. Eta kenna kanyahokeuneun di tuhuna di yogyana. Aya ma nu majar mo nyaho, eta nu mo satya di guna di maneh, mo teuing di carek dewata urang. Tan nawarung inanti dening kawah lamun guna dipiguna, lamun twah mo di pitwah, sahingga ning guna kreta kena itu tangtu hyang tangtu dewata.”
“Bila kita akan bertindak, janganlah salah mencari tempat bertanya. Bila ingin tahu taman yang jernih, telaga berari sejuk tanyalah pada angsa. Umpamanya ada orang menekuni pedoman hidup, jernih pikiran, hasrat hidupnya bergelora seperti angsa yang berada di telaga bening. Bila kita ingin tahu isi laut tanyalah pada ikan. Ibaratnya orang ingin tahu tentang budi raja dan budi maha pendeta. Bila ingin tahu isi hutan tanyalah gajah. Ini maksudnya. Yang diibaratkan isi ialah tahu keinginan orang banyak. Yang diibaratkan gajah ialah tahu tentang kekuatan sang raja. Bila ingin tahu tentang harum dan manisnya bunga, tanyalah kumbang. Maksudnya, yang diibaratkan itu ialah orang dapat pergi mengembara. Tahu perilaku orang lain. Yang diibaratkan harum bunga ialah manusia yang sempurna tingkah lakunya, manis tutur katanya selalu tampak tersenyum penuh kebahagiaan. Maksudnya janganlah salah memilih tempat bertanya. Itu semua patut di kethaui tepatnya dan perlunya. Bila ada yang mengatakan tidak perlu tahu, itulah yang tidak akan setia kepada keahlian dirinya, mengabaikan ajaran leluhur kita. Pasti ditunggu oleh neraka bila keahlian tidak dimanfaatkan, bila kewajiban tidak dipenuhi, untuk mencapati kebajikan dan kesejahteraan karena itu ketentuan dari Hyang dan Dewata.”
Menurut Edi S. Ekadjati (filolog), istilah Jati Sunda memiliki makna yang sama dengan Sunda Wiwitan. Jati atau Wiwitan sendiri bermakna: asli, sebenarnya. Istilah Sunda Wiwitan sendiri berasal dari Alibasa Koesoema Widajayaningrat (L.1822) atau Pangeran Madrais, anak dari hasil pernikahan Pangeran Keraton Gebang-Cirebon, Alibasa, dengan R. Katewi, keturunan kelima dari Tumenggung Jayadipura Susukan. Ternyata, ya… istilah Sunda Wiwitan ini dari Kabupaten Cirebon, dan berusia tidak terlalu tua pula: abad ke-19. Keraton Gebang sendiri didirikan (abad ke-16) oleh Pangeran Sutajaya, keturunan ke-6 Sunan Gunung Djati dengan tujuan selain sebagai pusat pemerintahan juga berfungsi sebagai gudang logistik Kesultanan Mataram ketika melakukan penyerbuan ke Batavia dalam melawan tentara VOC Belanda. Ajaran Sunda Wiwitan sendiri mulai berkembang di Ciawi, Kuningan. Nanti juga ada sebutan Ciawi-Gebang.
Sebenarnya agak meragukan data yang diberikan oleh Edi S. Ekadjati, karena Suku Baduy mengaku beragama Sunda Wiwitan. Jika Sunda Wiwitan baru didirikan pada abad ke-19, sedangkan Suku Baduy yang merupakan prototype Sunda Kuno sudah terlebih dahulu ada, bagaimana cara untuk menjelaskan asal usul Sunda Wiwitan? Data lain menyatakan, bahwa Suku Baduy merupakan prajurit dan penduduk yang masuk ke dalam wilayah pemerintahan Prabu Pucuk Umun (Banten Girang/ Banten Hulu), yang melarikan diri ke pedalaman dari kejaran Sultan Mawlana Hasanuddin. Mereka dan keluarga Surosowan – kakek Sultan Mawlana Hasanuddin (1479-1570) — ingin memenuhi amanat dari Surosowan agar sepeninggalnya, agama Sunda Wiwitan harus tetap dilestarikan. Pemerintahan tersebut berada di bawah Kerajaan Pajajaran.[1]
Setelah melihat data di atas barangkali memang lebih tepatnya bahwa Sunda Wiwitan itu berasal dari Surosowan, bukan dari Pangeran Madrais.
Terlepas dari apakah sama definisi Jati Sunda dengan Sunda Wiwitan, aku mencoba simpulkan, bahwa Jati Sunda memiliki hakikat, bahwa hakikat dari agama adalah “mengenal sejatinya tugas hidup”.
Begitu banyak hal yang bisa dieksplor lanjutan. Termasuk istilah Sunda itu sendiri. Aku sudahin dulu sampai di sini. Jika memang ada rezekinya, insya Allah akan bahas pengertian Sunda.
Referensi:
[1] Nurseha, Pertarungan Sultan Mawlana Hasanuddin dengan Prabu Pucuk Umun, Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jalan Daksinapati Barat IV, h. 2.
2. Semua foto diambil dari internet. Bukan gambar masjid-masjid masa kini di Cirebon, tapi akhirnya mengambil gambar masjid Demak, masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon, Masjid Agung Banten, dan masjid-masjid lain yang ada di Nusantara.
3. Agus Aris Munandar, dkk.: Bangunan Suci Sunda Kuna.
4. Kosmologi Ibnu Arabi.
5. Naskah Serat Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian
6. Dll lupa referensi yang mengambil dari internet.
