Sekolahnya Renatus Descartes

Sekolahnya Renatus Descartes, merupakan sekolah yang didirikan atas perintah King Henri IV pada tahun 1604 di La Haye kepada Ignatius Loyola, seorang santa tentara dari Spanyol. Loyola memiliki tampilan yang aneh tetapi menarik dan bersemangat. Ia dikaruniai kemampuan menyembuhkan sakit jiwa, dan kerap membantu anak-anak muda menerima kehidupan mereka dengan ikhlas.

Awalnya sekolah ini bernama Jesuit College, lalu pada abad ke-19, Napoleon mengubah namanya sehingga menjadi Prytanée National Militaire. King Henri IV mendirikan Jesuit College dengan tujuan agar anak-anak muda mencintai ilmu, menjadikan mereka terhormat dan bermanfaat dengan menjadikan diri mereka sebagai pelayan umat.

Selama delapan tahun Descartes mendapatkan penempaan ilmu klasik, fisika, liberal arts (Bidang Quadrivium: aritmetika, geometrika, astronomi, musik. Bidang Trivium: grammar, retorika, logika), metafisika, drama, menari, riding, anggar, dan filsafat alam. Sekolah tersebut mengambil sumber keilmuwannya terutama dari Aristoteles dan Thomas Aquinas, yang disebut juga sebagai filsafat skolastik.

Descartes bangga dengan sekolahnya, tetapi merasa kecewa karena fisika yang dipelajarinya mengawang-awang, tidak menggunakan prinsip-prinsip matematika. Observasi yang dilakukan tidak bernilai kuantitatif, melainkan hanya kualitatif dengan penggunaan istilah-istilah yang samar, abstrak, dan tidak jelas. Padahal, setidaknya sudah ada penemuan-penemuan dari Galileo yang bisa membangkitkan kesadaran untuk mencari metode berbeda dari yang selama ini telah dilakukan. Pada tahun 1611 La Fleche hanya menerima Galileo dengan sekedar memperingati bulan-bulan Jupiter temuan Galileo. Namun meskipun begitu, Descartes tetap memberikan apresiasi terhadap sekolahnya, “Tidak ada tempat di bumi ini yang mengajarkan filsafat lebih baik selain di La Fleche, karena:

1. Pengajaran filsafat terburuk ada di Holland. Sehari-harinya profesor hanya mengajar sejam sehari, itu pun rata-rata hanya setengah tahun.

2. Perubahan itu bagus dalam kehidupan seseorang, seperti meninggalkan rumah untuk belajar banyak hal di negara lain, seperti bahasa, gaya hidup, dan agama yang berbeda. La Fleche tidak jauh dari pembelajaran sedemikian. Begitu banyak anak muda dari seluruh penjuru Perancis yang belajar di sana, dan mereka membentuk aneka ragam campuran yang seolah-olah bahwa belajar di La Fleche itu seperti sedang mengadakan perjalanan yang jauh. Jesuit yang memperlakukan setiap siswanya setara, menjadikan sekolah itu menyenangkan.”

Tentang pentingnya pengajaran filsafat, Descartes memberikan pendapat:

“Tidak berarti seolah-olah segala sesuatu yang diajarkan dalam filsafat adalah benar seperti Injil, tetapi karena filsafat adalah kunci dari ilmu-ilmu lain, maka sangat berguna untuk mempelajari seluruh kurikulum filsafat. Lembaga-lembaga Jesuit berupaya mengangkat pikiran seseorang untuk tetap sederhana dan tidak suka menonjolkan keilmuan serta menjadikan diri sendiri bijak.”

Filsafat diajarkan selama dua kali sehari dalam sesi yang masing-masing berlangsung dua jam berdasarkan kurikulum yang ditetapkan terutama berdasarkan Aristoteles dan Thomas Aquinas.

Selama masa Descartes, tahun pertama dikhususkan untuk logika dan etika. Kurikulumnya mengambil dari komentar dan pertanyaan berdasarkan Kategori dalam buku Isagoge Porphyry dan Aristoteles dalam Bab Interpretasi, Prior Analytics, Topik, Posterior Analytics, dan Etika Nicomachean.

Tahun kedua dikhususkan untuk fisika dan metafisika, terutama berdasarkan Fisika Aristoteles Bab De Caolo, On Generation and Corruption Book I, dan Metaphysics Books I, II, dan XI.

Tahun ketiga filsafat merupakan tahun matematika, yang terdiri dari aritmatika, geometri, musik, dan astronomi, termasuk topik-topik seperti pecahan, proporsi, angka dasar, teknik untuk pengukuran jarak dan ketinggian, trigonometri, gnome, geografi dan hidrografi, kronologi, dan optik.

Mahasiswa diharapkan untuk mempelajari kuliah profesor secara menyeluruh. Rutinitas harian mereka akan mencakup sejumlah jam belajar yang dibutuhkan. Setiap harinya, mereka juga harus melaporkan tugas yang sudah mereka kerjakan. Mengulang-ulang materi yang diajarkan menjadi santapan sehari-hari, karena pembelajaran mereka akan diuji dengan debat mingguan dan bulanan di depan profesor dan rekan-rekan mereka.

Pernyataan berikut dituliskan Descartes di dalam Pengantar buku Discourse on the Method yang baru ditulis pada tahun 1637.

“Saya terus mempraktikkan metode yang saya rumuskan sendiri. Karena, disamping secara umum bisa menjaga agar semua pemikiran saya tetap berada di dalam aturan yang benar, saya juga selama beberapa jam setiap hari mengaplikasikan metode tersebut ke dalam persoalan-persoalan matematika, atau bahkan ke ilmu-ilmu lain yang hampir saya ubah ke dalam persoalan-persoalan matematika dengan memisahkan mereka dari semua prinsip ilmu-ilmu lain yang saya temukan tidak ajeg. Lalu, tampil tanpa hidup berbeda dari siapapun yang berminat hanya pada kehidupan yang disepakati dan diperiksa, maka saya melanjutkan rencana dan mengembangkannya dalam perumusan pencarian pengetahuan yang benar, lebih daripada jika saya hanya membaca buku-buku atau menghabiskan waktu dalam kelompok belajar.” (vi. 29 – 30)

Pernyataan di atas memperlihatkan karakteristik Descartes, yaitu: hanya sedikit membaca buku sepanjang hidupnya, dan meninggalkan sebanyak mungkin kelompok belajar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s