Belajar Apa dalam Sejarah?

(2)

  1. Meneropong Sejarah Diri, Melacak Sejarah Universal

Di dalam setiap perjalanan, kita butuh menemukan, bahwa kita tengah diperjalankan-Nya. Perjalanan, merupakan istilah yang selalu akan memiliki dimensi ruang, waktu, peristiwa, dan pelaku dalam interaksinya dengan orang lain dan orang lain dengan orang lainnya lagi, dst.

Diperjalankan, manakala perjalanan di dalam dimensi tersebut disadari, bahwa diri tak pernah terpisah dari keping demi keping takdir yang ditentukan-Nya, sehingga dapat menemukan benang merah dari setiap keping demi keping takdir tersebut. Dari setiap warna warni prisma yang membentuk satu warna: putih. Karena itu, betapa pentingnya mencermati pos demi pos perjalanan dalam kronologis waktu, ruang, peristiwa, dan pelaku. Perjalanan karenanya, adalah sebuah sejarah, yang menegakkan kehari-inian. Memeriksa kedawaman, keistiqomahan sebuah urusan. Katakanlah, sebagai prediksi sebuah urusan ke depan, meskipun sungguh tak jarang peristiwa demi peristiwa Dia hadirkan begitu mendadak, tanpa kita rencanakan sama sekali. Tidak terduga.

Tetapi, titik titik itu tidak akan terpencar jauh dari apa-apa yang sudah Dia berikan sebelumnya, yang merupakan titik koordinat diri yang paling tercermati karena cukup dapat dikenali, sebagaimana ketika makan dalam sebuah meja jamuan, tangan kita hanya dapat meraih seluas jangkauan; bahkan seharusnya hanya berada di hadapan: sebenar tahu apa yang sedang dihidangkan. Kalau jauh, biasanya bertanya-tanya, “Makanan apa itu, ya? Kayaknya mirip A. Atau B? C kayaknya… Ah D lebih mirip. E ah.” Kita bahkan, ketika memasuki sebuah restoran dengan pelbagai macam ukuran meja, tentunya hanya akan mengambil yang memuat diri kita. Ketika datang sendiri, berdua, bertiga, tentunya tidak mengambil meja yang diperuntukkan bagi 10 orang. Terlepas apakah ruangan itu kosong atau tidak. Susatra mirip ini: adab, etika. Segala sesuatu ada pos-pos-nya, ada tempat-tempatnya bagi pelaku-pelaku tertentu. Begitulah model sejarah… tiap orang ditempatkan pada pos-pos-nya.

Karenanya, perlu bagi kita untuk merumuskan sebuah metode pembacaan Sejarah yang memfungsikan Sejarah sebagai perlengkapan untuk dapat menangkap hikmah, maw’idzhoh (pengajaran), ‘ibroh (pelajaran dalam simbolisasi alam, ruang, dan waktu), dan dzikron (peringatan), agar tidak sekedar menangkap sebuah kisah yang menakjubkan bagi pikiran, tetapi lebih dapat membawa pada makrifat kepada-Nya, karena dapat melihat tebaran ayat-ayat-Nya di segenap ufuk dan pada diri sendiri. Dari makrokosmos, alam besar bentangan sejarah, umumnya, hingga pelajaran yang lebih spesifik pada diri, mikrokosmosnya.

Qs. Al-Fushshilat [41] : 53

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ [٤١:٥٣]

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap ufuk (al-aafaqh) dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa pembuktian yang nyata (yatabayyan) itu al-Haqq. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Rabb-mu menjadi saksi atas segala sesuatu?”

Merasakan disaksikan Allah, Dia senantiasa melingkupi kita, maka itu adalah al-Haqq. Dan ini yang perlu dibangun dalam pembacaan Sejarah sebagai bentangan ayat-ayatnya yang nyata.

Qs. Al-Maidah [5] : 8

وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ ۚ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [٧:٨]

“Timbangan pada hari itu adalah al-Haqq, maka barangsiapa berat timbangan al-Haqq-nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung (al-Muflihuun).”

B. Menjejaki Kekhasan Sejarah di dalam Lingkaran Takdir Diri

a. Menjangkau Logika di Dalam Mitos

Penjelasan di atas sampai pada kesimpulan, bahwa Allah selalu mengungkapkan diri-Nya kepada kita dalam bentuk-bentuk yang sebenarnya selalu kita kenali. Sesuatu kita kenali di alam semesta, karena cetak birunya merupakan jejak yang sudah ada pada jiwa kita. Hanya saja, seringkali untuk menyampaikan sesuatu, lidah tak mampu menjelaskannya karena logika tak mampu menyampaikan makna, sehingga diperlukan analogi, perumpamaan, atau permisalan yang disampaikan melalui simbol, baik berupa tulisan, benda, makhluk, peristiwa, dan lain sebagainya yang terdapat di alam semesta ini. Bahasa, yang dengannya menjadi media berkomunikasi, akhirnya memiliki perbedaan ekspresi.

Dalam data-data sejarah yang ada, beberapa tradisi mengekspresikan kebenaran dengan menggunakan bahasa lebih konkrit dengan tafsiran yang lebih mudah dipahami, sedangkan lainnya mengekspresikan kebenaran dengan cara lebih abstrak seperti mitologi yang penuh simbol. Tanpa kesadaran dari bahasa simbolik atau lambang dalam mitologi, tidak mungkin kita dapat mencapai pemahaman mendalam tentang ilmu-ilmu tradisional, yang memunculkan keterbukaan hakikat sesuatunya. Adakah sebuah negeri yang peradabannya tidak dibentuk oleh mitos? Mulai dari tradisi lisan dan tulis, menyampaikannya. Dan tidak jarang, sejarah dituliskan bercampur dengan mitos. Sang pujangga berkehendak, untuk menyampaikan sejarah beserta maknanya.

Kita bisa melihat, bagaimana Wajah Al-Quran dibentuk.

Fungsi dari semua kisah (qoshosh) yang diceritakan dengan pewahyuan (naba’) adalah untuk meneguhkan fuad, yaitu akal terluar dari lingkaran bola hati untuk memahami haqq, sementara tertingginya adalah lubb yang memiliki kapasitas melihat ayat-ayat-Nya hingga ke seluruh ufuk mikrokosmos (diri) maupun makrokosmos (alam semesta), seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Qs. Huud [11] : 120

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ ۚ وَجَاءَكَ فِي هَٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ [١١:١٢٠]

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan fuad-mu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran (maw’idzhoh) dan peringatan (dzikron) bagi orang-orang yang beriman.”

Rasulullaah saw. dalam sebuah hadis riwayat dari Ali bin Abi Thalib ra. yang disampaikan oleh Imam Jafar ash-Shadiq.,

”Sesungguhnya al- Quran turun dalam empat bentuk, yaitu Ibarat (ungkapan tekstual) untuk orang awam, Isyarat (permitsalan, amtsal) untuk orang khusus (khawas), Latha’if (makna-makna yang lembut) untuk para wali dan Hakikat untuk para Nabi.”

Menurut Tirmidzi, bahwa amtsal merupakan cermin jiwa (nafs), sehingga maknanya hanya bisa ditangkap oleh jiwa; sedangkan nur adalah cermin hati (qalb). Apapun yang ditangkap oleh telinga dan mata serta kepala, diyakini oleh hati; maka jiwa (nafs) pun mengetahui dan menjadi tenang, sementara dada (shudur) menjdi lapang. Ketika dada menjadi lapang itulah, maka petunjuk akan mampu dibaca (terbuka) oleh hati, termasuk dalam petunjuk dalam beri’tibar.

Kata al-i’tibar (الإعتبار) merupakan masdar dari kata اعتبر (i’tabaro). Secara terminologi, al-i’tibar merupakan peninjauan, pengkajian, ataupun penelaahaan secara teliti terhadap berbagai hal terkait agar diketahui makna dan maksudnya dengan tujuan untuk mendapatkan suatu petunjuk atau pegangan akan hal terkait.

Sebelum mampu mengambil i’tibar, dibuka dulu ta’bir, yang hanya dikaruniai kepada orang-orang yang selalu mendekatkan diri (taqorub) kepadaNya. Pengetahuan terkait petunjuk akan suatu ‘ilm.

“Man adzinalahu fit-ta’biyri fahimat fii masaa mi’il-khalqi ‘ibaaratuhu wajaliyat ilaiyhim isyaratuhu”.

“Barang siapa yang diperkenankan pemberian oleh Allah tentang i’tibar, maka ibaratnya dapat diterima oleh manusia, serta jelasnya (petunjuk) mereka.”

Qs. 29 : 43

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ [٢٩:٤٣]

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini (al-Amtsaal) Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu (al-‘aalimuun).”

Karena itu, menurut Ibnu ‘Athoillah dalam buku al-Hikam, bahwa “Setiap perkataan (kalaam) yang keluar pasti membawa corak penutup hati yang darinya perkataan itu keluar”, sehingga memang perlu lah kita untuk senantiasa membersihkan hati. Demi menjaga kemurnian setiap perkataan kita.

Mitos, memiliki kaitan dengan dengan perumpamaan (al-amtsal). Jika mitos adalah ceritanya, maka perumpamaan merupakan gambaran dari prinsip-prinsip abstrak yang bermakna. Dari ayat di atas, tampak, bahwa memahaminya dibutuhkan akal yang kuat yang hanya dimiliki oleh mereka yang berilmu (al-‘Aaalimuun).

Jika begitu, apa model penulisan sejarah seperti ini? Secara umum, disebut sebagai Hagiografi. Kuntowijoyo memberikan rumusan “Sejarah Prophetik”, sedangkan aku mungkin memilih “Sejarah Menyastra” saja… tepatnya kita akan mencoba pada Penulisan Sejarah Nusantara yang tidak lepas dari kontribusi orang-orang suci di dalamnya.

7 April 2021, 23.35.

25 Sya’ban 1442, jelang 26 Sya’ban.

b. Metodologi Penulisan Sejarah Menyastra

Konsep-konsep kunci dalam perumusan Metodologi Penulisan Sejarah Menyastra, dapat kita sisir pertamanya dari unsur-unsur pembentuk Sejarah yang sudah dijelaskan pada Bagian I: ruang, waktu, peristiwa, dan interaksi setiap pelaku, yang berada di dalam takdir yang ditetapkan oleh Tuhan. Penulisan Sejarah, karena itu harus bernilai hikmah, ‘ibroh, maw’idzhoh, dan dzikron.

Berdasarkan hal tersebut, maka kita mencoba memberikan nilai Ilahiyah pada unsur-unsur tersebut dengan pembagian kajiannya menjadi sebagai berikut:

1. Pola Gerak Sejarah

Apa-apa yang ditemukan dan diungkapkan oleh peneliti Sejarah pada umumnya, hanya merupakan titik awal. Membuat Sejarah itu menjadi bermakna, maka perlu dinaikkan derajatnya menjadi Filsafat Sejarah.

Sejarah berjalan dalam daur kultural dan agama yang tak terpisahkan dari alam tempat beradanya, baik dalam aspek politik, ekonomi, pendidikan. Terkadang daur-daur itu terputus untuk dibelokkan, atau saling terjalin hingga membentuk suatu gambaran peradaban.

Perjalanan Sejarah memiliki dua jenis waktu, yaitu waktu fisik, yang biasa kita tandai dengan hitungan semisal tahun Masehi dan atau Hijriyah dan waktu spiritual atau ruhani. Waktu spiritual ini adalah waktu ketika jiwa memaknai perjalanan tersebut sebagai sesuatu yang diperjalankan. Jelas siapa yang menjalankan dan yang menjalaninya, dan pelajaran-pelajaran yang didapatkan mampu mentransformasi kedirian seseorang menjadi lebih mengenal pos-pos dirinya.

Spiritual: perjalanan dengan penyertaan ruh, spirit. Bakarannya yang menghidupkan jiwa untuk senantiasa terus bersemangat mengenal dirinya. Menemukan kebenaran demi kebenaran dalam tiap detik tafakurnya.

Data-data yang diolah hingga menjadi fakta, merupakan ruh yang terdapat di dalam ruang dan waktu, sehingga pencarian data yang berbuah fakta menjadi hal sangat penting di dalam sebuah penelitian Sejarah. Barangkali tidak hanya di dalam penelitian Sejarah saja, melainkan di semua bidang.

2. Tujuan Gerak Sejarah

Untuk menghindari keruntuhan suatu budaya, maka hal yang mungkin dilakukan adalah menjaga nilai-nilai baik yang sudah ada, dan di sini mitos terlihat signifikansinya. Tetapi hal itu sangat tidak gampang, karena itu selalu ada penggantian budaya, dalam hal ini mengalami akulturasi dan asimilasi, menurut Ikhwan al-Shafa, dalam waktu 120 tahun sekali. Teori lain mengatakan, 100 tahun sekali. Al-Quran pun menyatakan, bahwa terdapat pergiliran kebudayaan

Qs. Ali Imron [3] : 14

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ ۚ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ [٣:١٤٠]

“Jika kamu mendapat luka, maka sesungguhnya kaum itupun mendapat luka yang serupa. Dan masa (al-ayyaam) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah memisahkan orang-orang yang beriman (dengan kekafiran) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.”

3. Motor Penggerak Proses Sejarah

Motor pertama, tentu Tuhan, sebagai satu-satunya pengendali perjalanan Sejarah. Motor berikutnya, kedua, sebagai utusan-Nya, jika kita melihat tujuan dari Sejarah Prophetik-nya Kuntowijoyo dan Hagiografi, adalah para orang suci atau setidaknya, mereka yang memiliki gagasan besar. Motor ketiga, adalah alam tempat para pelaku tinggal dan peristiwa yang menaunginya di dalam waktu-waktu tertentu. Sebagaimana pada poin pertama telah dijelaskan, bahwa waktu terdiri dari waktu fisik dan spiritual. Allah tidak pernah mengulang penciptaan yang sama, selalu baru. Itu yang harus senantiasa dirasakan.

Dari ketiga kajian di atas, kita coba masukkan ke dalam langkah-langkah penelitian yang biasa dilakukan oleh para penelitian Sejarah, yaitu:

1. Heuristik: Mencari data-data dengan akurat demi kepentingan pencarian fakta. Tentunya dalam penelitian Sejarah, data primer, yang langsung dari sumbernya, merupakan pemberian fakta yang sangat kuat. Contoh data-data tersebut seperti naskah-naskah kuno, yang biasanya para Sejarawan pergunakan dari hasil penelitian Filolog, artefak hasil penelitian Arkeolog, arsip-arsip, video, audio, dan sejarah lisan (wawancara).

Terkait dengan hagiografi, penulisan Sejarah dalam sudut pandang Ilahiyah, perlu terlebih dahulu mendudukkan persoalan Filsafat Ilmu-nya yang di dalamnya terdapat aspek Metafisika yang membicarakan persoalan hierarki realitas yang nantinya akan terkait dengan apa-apa saja yang perlu diketahui oleh seorang manusia di dalam pembacaan Sejarah dengan tujuan makrifat kepada-Nya hingga memahami persoalan etika penelitian yang akan berimplikasi pada metode apa saja yang diambil untuk pengambilan data-data dalam rangka pengungkapan sebuah atau beberapa fakta.

2. Kritik: Membandingkan asumsi dan hipotesis penelitian Sejarah kita dengan berbagai penelitian yang sudah ada; melihat kekuatan dan kelemahan penelitian yang sudah ada dalam rangka memperkuat fokus penelitian kita.

3. Penafsiran: Memahami data-data yang ada untuk dijadikan fakta yang lalu dianalisa secara objektif.

4. Penulisan: Tulis saja sesuai dengan bagian yang terasa sangat dimudahkan dulu. Sesuai dengan gayamu, tetapi tetap ilmiah.

Sekian penjelasan singkat tentang Metodologi Penelitian Sejarah. Insya Allah bersambung kepada penelitian atau kajian tentang Banten. Kita mencoba mengaplikasikan konsep dan teori yang sudah dibahas.

10 April 2021, 22.47, Sabtu.

27 Sya’ban 1442 H.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s